Ilmu Komunikasi UM Buton ikut APJIKI

0

APJIKI (Asosiasi Penerbit Jurnal Imu Komunikasi Indonesia) menyelenggarakan Workshop, Kongres Nasional dan sekaligus Coaching Clinic pengelolaan Jurnal di Universitas AMIKOM, Yogyakarta pada 27-28 Februari 2020.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh 114 anggota APJIKI dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Salah satu nya dari Universitas Muhammadiyah Buton.

Salah Satu Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Buton, Medialog. Melakukan penandatanganan MoU Bersama Ketua APJIKI terpilih Puji Lestari periode 2020-2023. Medialog Jurnal Ilmu Komunikasi UM. Buton bekerja sama dalam hal pertukaran editor, pertukaran reviewer dan pertukaran penulis.Kerja sama ini agar meningkatkan kualitas jurnal Ilmu Komunikasi UM.Buton dan Peningkatan Dosen dan Mahasiswa Ilmu Komunikasi.

Penandatanganan MoU Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia (APJIKI) dan MEDIALOG Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Buton.

Pada hari pertama , selain Kongres, acara APJIKI juga didahului kegiatan workshop dengan pemateri Rajab Ritonga dan Hanny Hafiar, yang keduanya Asesor Jurnal Ilmu Komunikasi Kemenristekdikti, sekaligus anggota APJIKI. Tema workshop tentang “Etika Publikasi Penulis dan Pengelola Jurnal Ilmu Komunikasi”.

Rangkaian acara APJIKI hari kedua dilakukan coaching clinic yang dipandu secara langsung oleh 8 pemimpin redaksi Jurnal Komunikasi yang terakreditasi SINTA (Science and Technology Index) 2.

Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia mendorong setiap kampus yang memiliki Program Studi Ilmu Komunikasi di seluruh Tanah Air mempunyai jurnal yang terakreditasi guna mendukung publikasi hasil-hasil riset akademisi baik dosen maupun mahasiswa perguruan tinggi tersebut.

Menurut Ketua APJIKI Puji Lestari “Sekarang ini kebutuhan akan jurnal mutlak diperlukan untuk publikasi hasil-hasil riset terutama akademisi, baik dosen maupun mahasiswa,”

Oleh karena itu, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi dan Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta ini mengatakan bahwa idealnya setiap kampus dengan Prodi Ilmu Komunikasi, yang jumlahnya sekitar 250 kampus, memiliki jurnal terakreditasi, sementara saat ini baru sekitar 70 jurnal terakreditasi.

Menurut dia, pentingnya jurnal terakreditasi karena mahasiswa, terutama magister (S2) itu bisa lulus kalau sudah menulis di jurnal terakreditasi SINTA (Science and Technology Index) 2, termasuk mahasiswa S3 calon doktor juga bisa lulus apabila sudah menulis hasil risetnya di jurnal nasional terakreditasi.

“Bahkan untuk jabatan fungsional dosen itu sekarang harus menulis di jurnal sebagai syarat utama di SINTA 3, atau 4, 5 dan 6. Kemudian dari Lektor ke Lektor Kepala dan dari Lektor Kepala ke profesor juga harus menulis di jurnal terakreditasi SINTA 1 atau 2,” katanya.

Dia juga mengatakan ketentuan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bahwa dosen-dosen yang menerima hibah atau mahasiswa S2 maupun S3 yang mengajukan hibah ke Dikti itu luaran risetnya harus dipublikasikan di jurnal terakreditasi SINTA 1 atau 2, atau jurnal internasional.

“Dengan demikian kebutuhan jurnal ini sangat penting, maka kami APJIKI mewadahi beberapa penerbit, bahkan yang tergabung sejak kepengurusan yang pertama (2017) sampai sekarang (2020) ada 147 penerbit jurnal ilmu komunikasi se Indonesia yang menjadi member APJIKI,” karena itu bukan sebuah jurnal yang ditulis sendiri, dibaca sendiri dan disimpan sendiri, karena jurnal tersebut nilainya rendah“.  katanya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.